Ulasan saya kali ini adalah karya ilmiah yang dibuat oleh Noviana Pramitasari pada tahun 2007. Karya ilmiah ini lengkapnya dapat dilihat di http://hdl.handle.net/123456789/15988
Manusia memiliki beberapa karakter fisiologis, seperti DNA (Deoxyribo Nucleid Acid), mata (retina dan iris), sidik jari, suara, tangan dan wajah (Maltoni et al. 2003). Karakter-karakter tersebut dapat digunakan dalam sistem biometrik, yaitu sistem pengenalan pola yang mengidentifikasi karakter fisiologis seseorang dengan menentukan keotentikan. Dalam karya ilmiah ini, penulis menggunakan biometrik wajah untuk diteliti.
Salah satu metode pengolahan citra adalah wavelet. Cara kerja wavelet yaitu mengekstraksi fitur dan fitur-fitur yang penting tidak akan hilang ketika dimensi citra mengalami reduksi. Citra hasil transformasi wavelet akan digunakan sebagai input sistem pengenalan wajah pada penelitian ini. Induk wavelet yang digunakan adalah induk wavelet Haar karena didasarkan pada dua penelitian sebelumnya, yang pertama oleh Cahyaningtias (2007) dan selanjutnya dilakukan oleh Oktabroni (2008).
Metode pengenalan wajah yang digunakan pada penelitian ini adalah algoritme Voting Feature Interval (VFI5). Algoritme VFI5 merupakan suatu algoritme yang merepresentasikan deskripsi sebuah konsep oleh sekumpulan interval nilai-nilai fitur atau atribut. Tahapan pelatihan pada algoritme VFI5 menghasilkan interval-interval, dan setiap fitur-fitur yang dihasilkan olah data citra direpresentasikan oleh piksel-piksel pada tiap elemen data tersebut.
Pada penelitian ini, untuk pengenalan data citra wajah, yang menjadi inputan algoritme VFI5 adalah citra yang telah mengalami dekomposisi wavelet di level 1 sampai level 6. Terdapat tiga kesimpulan dari penelitian ini, yaitu Level 2 dekomposisi wavelet memiliki akurasi yang paling tinggi yaitu sebesar 90%, akurasi level 2 lebih tinggi dibandingkan level 1 walaupun jumlah fitur level 2 lebih sedikit, dan yang terakhir adalah akurasi dari level 3 sampai level 6 menurun
dengan interval dari 85% sampai 30%.